Home ~ Tips Kehidupan ~

Kirab Ala Koruptor

Kirab Ala Koruptor

8 Feb 2010

Blog Cerita Inspirasi Kategori Tips Kehidupan

Kyai SlametTak seperti hari biasanya, hari ini suasana kota yang dilewati oleh sungai terpanjang di Jawa ini terasa sedikit mistis. Aku lahir dan dibesarkan di kota ini. Kota pecahan kerajaan Mataram akibat perjanjian Giyanti. Kota yang terkenal dengan keramahan masyarakatnya. Kota yang memiliki binatang keramat yang diberi nama Kyai Slamet.

Awan kian berarak dan hari pun mulai bergulir senja. Sang surya meronta-ronta meloloskan sinarnya di sela-sela awan, melukis garis-garis transparan lurus berwarna jingga bak selendang dewi yang terkibas oleh buaian angin. Sungguh pemandangan alam yang makin menonjolkan kesan sakral pada kota yang masih melestarikan budayanya di tengah hiruk pikuk modernisasi.

Di tengah perjalanan pulang menuju rumah, kakiku tertahan oleh pemandangan menarik di sudut kota. Banyak wanita dan laki-laki berumur memakai pakaian adat Jawa tengah sibuk hilir mudik mempersiapkan suatu event akbar yang hanya digelar setahun sekali. Tak ayal, aku seperti kembali ke masa kejayaan kerajaan Mataram kuno. Para abdi dalem tak henti-hentinya berlalu lalang membawa tetek bengek sesaji dan benda-benda yang apalah itu namanya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, ritual malam 1 Syuro kali ini pasti akan membawa keramaian tersendiri di sepanjang jalan-jalan utama kota Solo. Jalan yang tengah malam nanti akan berubah menjadi catwalk bagi sang Kyai. Di jalan-jalan ini pula, berkah-berkah yang keluar dari bagian paling belakang binatang keramat ini diperebutkan.

Walaupun aku lahir dan besar di kota ini, namun tak pernah sekalipun aku menyaksikan sakralnya ritual tahunan ini dengan mata kepalaku sendiri. Bukan karena aku tak mencintai budaya warisan leluhurku, namun karena aku tidak terlalu nyaman berada di tengah-tengah keramaian. Aku lebih suka menyaksikan beritanya di headline koran esok hari. Kembali ke soal kerbau Kyai Slamet, setiap tahunnya binatang ini selalu menjadi tontonan gratis yang selalu berhasil menarik hati banyak masyarakat, baik penduduk lokal maupun wisatawan. Berjuta pasang mata selalu tertuju pada satu obyek, yaitu sang Kyai keramat.

Seperti dugaanku, koran hari ini memampang berita ritual 1 Syuro semalam. Masyarakat tumpah ruah memenuhi tiap-tiap badan jalan. Keramaian di tengah malam. Keasyikanku membaca koran mulai terusik dengan beberapa artikel yang kebanyakan mengupas tentang korupsi, entah itu kesuksesan pihak berwajib dalam menangani kasus korupsi atau malah borok petinggi negeri ini yang dengan entengnya membuka bursa dagang hukum. Jual beli hukum peradilan, mafia peradilan, dan suap sana suap sini tak lebih seperti kejadian wajar yang dilakukan tersangka korupsi tiap kali kebusukannya tercium. Itu baru kasus-kasus yang terkuak, lalu bagaimana dengan kasus korupsi yang pelakunya masih dapat melenggang enteng?

Ku lipat koran, ku sandarkan kepala, dan ku pejamkan mata sejenak, mengahayal tentang nasib negeriku kelak, tentang nasib anak cucu penerus negeri ini nanti. Hukum yang ditegakkan di negeri ini tak ada bedanya dengan sampah yang tak akan pernah membuat pelaku korupsi jera. Kalaupun mereka divonis penjara, dengan mudahnya mereka dapat mendesain ulang kamar penjara mereka agar setipe dengan interior apartemen berbintang lima. Bagi mereka tak ada masalah selama uang yang berbicara. Hukum sudah tidak memiliki wibawa lagi. Tak bisa membunuh penyakit moral yang terlanjur mengakar kuat di masyarakat kita. Lalu bagaimana jika adat yang berbicara? Apakah akan membawa hasil yang lebih signifikan?

Koruptor tidak perlu diadili di ruang sidang dengan menghadirkan saksi, tim pembela hukum, jaksa, penuntut umum, dan tidak perlu mendengar keputusan hakim. Jika pelaku terbukti bersalah dengan adanya barang bukti cukup dijatuhi hukuman selama satu hari saja. Untuk apa dihukum hingga bertahun-tahun, toh di dalam buih tikus pengerat uang rakyat ini juga masih bisa hidup bermewah-mewahan bahkan melebihi kehidupan orang bebas lainnya. Selain menghemat ruang tahanan, koruptor pun juga tidak perlu banyak mengeluarkan biaya untuk membayar tim penasehat hukum plus sogokan-sogokan kepada aparat-aparat nakal. Kedua belah pihak saling beruntung bukan?

Koruptor cukup diarak keliling daerah dengan pakaian rombeng layaknya pengemis. Tempat arak-arakan disesuaikan dengan wilayah melakukan korupsi, Jika terbukti melakukan korupsi lingkup desa, cukup diarak di jalan-jalan desa. Namun jika korupsi yang dilakukan hingga menguras trilyunan uang negara, koruptor dapat diarak di ibu kota negara dengan syarat semua stasiun TV lokal, nasional, bahkan mancanegara meliputnya secara live.

Arak-arakan dilengkapi dengan sesaji berupa kembang setaman, kemenyan, dan tetek bengek lainnya dengan harapan tuyul yang bersarang di tubuh sang koruptor dapat pergi. Tak ubahnya seperti kirab kerbau Kyai Slamet, kirab koruptor pun akan menyedot banyak perhatian masyarakat. Pemilik sirkus pun akan gulung tikar jika setiap hari ada saja koruptor yang menjalani prosesi kirab ini. Negara pun akan diuntungkan karena kirab semacam ini berpeluang menjadi obyek wisata yang mampu mendatangkan turis-turis mancanegara.

Di akhir kirab, semua sesaji yang telah diarak dilarung ke laut dengan harapan tuyul yang merasuki sang koruptor dapat hanyut bersama sesaji yang dilarung. Setelah itu, sang koruptor akan menjalani ritual mandi kembang di hadapan masyarakat yang menyaksikan. Melalui perwakilan lima agama, LSM, dan pemuka masyarakat sang koruptor akan menikmati guyuran air kembang dengan harapan ia akan memulai hidup baru yang lebih bersih.

Setelah semua prosesi ini selesai dilakukan, koruptor akan diarak pulang kembali ke rumahnya dengan pakaian putih pertanda ia akan memulai hidup yang lebih baik lagi. Semua rangkaian kirab ini akan dijalankan asal masyarakat tidak membuat onar dengan melempari koruptor ataupun mengeluarkan kata-kata kasar. Tidak perlu kesan beringas ataupun galak, melalui tawa pun kita dapat mengantisipasi menjalarnya penyakit masyarakat ini. Hidup sudah susah, maka jangan dibuat semakin susah. Berantas korupsi dengan cara sederhana namun mengena.

————————————————————————————————————————-

linaArtikel tamu, ditulis oleh Lina Aoi. Mahasiswi Arsitektur UNS semester akhir, penulis, jurnalis, kolomnis sebuah harian, dan editorial sebuah penerbitan. Tulisan ini hanya contoh artikel dalam Anti Korupsi BlogPost Competition (tulisan ini tidak diikutkan dalam kompetisi).

————————————————————————————————————————-

Bagi sahabat-sahabat blogger yang belum tahu tentang Anti Korupsi BlogPost Competition, latar belakang kompetisi ini bisa dibaca di artikel sebelumnya. Sedangkan kelengkapan kompetisi dapat dilihat pada menu Kompetisi, Pendaftaran, dan Banner.

Saya masih menunggu tulisan temen-temen.. dan terima kasih pula buat sahabat-sahabat yang sudah mendaftarkan artikelnya… matur nuwun atas partisipasinya yaaa.. ^^

.

45 Komentar di “Kirab Ala Koruptor”

 

  1. Kristanto WDS mengatakan:

    Jadi punya ide sebenarnya pas baca yang ini, ntr kalo jadi ikut balik lagi deh….,

  2. PRof mengatakan:

    Klo panjang tulisan kurang dari 1000 didiskualifikasi toh kang…???

  3. PRof mengatakan:

    Klo panjang tulisan kurang dari 1000 kATA didiskualifikasi toh kang…??? weleh nggonku gur separone jew…

    • Joddie mengatakan:

      kalo berbentuk uraian memang disarankan minimum 1000 kata mas, tapi kalo berbentuk puisi seperti punyak’e njenengan, ya gak mungkin lah kalau dipaksakan 1000 kata.. ^^ kita coba memahami itu mas

  4. a-chen mengatakan:

    waduh, artikelku belum jadi2 neh Mas… gimana ya…. :-)

  5. Andrie callista mengatakan:

    Asalkan disiplin, kirab ini pasti akan berjalan dengan sukses.. he..

  6. afandi mengatakan:

    Q sangat mendukung tuk kut serta dalam pembrantasan kasus korupsi yg sdang menimpa negri tercnta q ni. Tpi syng, kayaknya ga semudah tu tuk kta brantas para koruptor2 yg dilaknat tu.

    ya perlu kta akui, kta sekarang hidup di akhir zaman. So q pribadi ga za berwat pa2 yg lbih tuk tu, q hnya za berdoa n minimal kita sendri ga perti mrka.Cma q hnya kwatir ja, pa mereka2 siap tuk berhadapan langsung dngan azab n siksa allah?

    Bla da kata2 q yg krang berkenan, q pribadi mohon maf.

    makasih tas ilmunya n salam knal.

  7. Emily mengatakan:

    waduh, artikelku belum jadi2 neh Mas… gimana ya…. :-)

 

 

 

Tulis Komentar

Copyright © 2010 CeritaInspirasi.net. All rights reserved. Powered by Gravis Web Design