Home ~ Kisah Inspirasi ~

Menebus Maaf, Melupa Salah

Menebus Maaf, Melupa Salah

17 Feb 2009

Blog Cerita Inspirasi Kategori Kisah Inspirasi

dua-sahabat

Apapun yang kau berikan kepada alam, suatu saat alam akan mengembalikannya, lengkap dengan bunga-bunganya …

Konon pada suatu masa di sebuah kota kecil, hidup dua orang pemuda. Mereka memang cukup ganteng dan populer di jamannya, tetapi di sisi lain mereka adalah cowok yang cukup bandel, liar, dan tidak pernah menghormati orang lain – sekalipun dilahirkan dari keluarga yang cukup terhormat.

Perilaku keliru ini belakangan menjadi kasus yang cukup serius ketika mereka mencuri domba dari peternak setempat. Dan hal ini adalah kejahatan yang cukup besar di masyarakat penggembala tersebut.

Sepandai-pandainya mereka, akhirnya cowok-cowok  itu tertangkap.

Karena malu, para orang tua kedua cowok itu segera mengusir dari rumahnya. Para penggembala pun mulai berunding untuk menentukan hukuman apa yang paling cocok bagi mereka. Para penggembala akhirnya memutuskan untuk memberi tatoo di jidat mereka dengan tulisan “ST”, singkatan dari “Sheep Thief” (pencuri domba). Karena bersifat permanen, maka tatoo ini akan kelihatan di dahi mereka seumur hidup.

Salah seorang diantara cowok itu cukup malu dengan tatoo tersebut, sehingga ia melarikan diri dari kota tersebut, dan tidak pernah ada kabar beritanya lagi.

Yang seorang lagi, dengan penyesalan mendalam dan tekad untuk memperbaiki hubungan dengan masyarakatnya. Ia memilih untuk tetap tinggal di kota dan mulai berbuat baik, terutama kepada warga yang pernah ia rugikan sebelumnya. Beberapa kali perbuatan baiknya ini malah menimbulkan kecurigaan dari masyarakat setempat, tetapi cowok itu tetap saja berbuat baik tanpa mempedulikan apa kata warga.

Setiap kali ada yang sakit, pencuri domba itu datang untuk merawat si sakit, membuatkannya bubur hangat dan menghiburnya dengan berbagai cerita-cerita lucu. Setiap ada kesibukan dan perayaan, pencuri domba itu selalu membantu dengan sukarela.

Ia tidak pernah memperhatikan apakah yang dibantunya itu kaya atau miskin. Kadang ia menerima tanda ucapan terima kasih, entah makanan maupun uang – tetapi lebih sering ia tidak pernah menerima apapun atas segala bantuannya – dan ia memang tidak pernah memperdulikan hal itu.

Beberapa puluh tahun kemudian, seorang turis datang ke kota itu – kota yang terkenal dengan udaranya yang sejuk dan kehidupan pedesaan yang masih alami. Ketika singgah pada sebuah warung di pinggir jalan, pelancong itu melihat seorang lelaki tua, dengan tatoo “ST” di jidatnya – sedang duduk di kursi goyang. Mata teduh orang tua itu tertuju pada ribuan domba di ladang samping rumahnya yang cukup megah di desa itu.

Turis itu juga memperhatikan bagaimana orang-orang yang lewat di depan rumah itu selalu menyempatkan diri untuk bercakap-cakap dengan orang tua itu – dan menunjukkan sikap yang sangat hormat, seolah-olah orang tua itu adalah bapaknya sendiri.

Ia juga melihat banyak sekali anak-anak yang bermain di halaman rumah yang tidak memiliki pagar itu. Turis mengamati, sesekali anak-anak itu menghentikan permainan mereka dan memeluk mesra orang tua itu.

Karena penasaran, orang asing itu bertanya kepada pemilik warung, “Apa arti huruf ST yang tertulis di jidat orang tua itu ?”

Jawab pemilik warung, “Saya tidak tahu. Kejadiannya sudah lama sekali…” sahut pemilik warung. Setelah terdiam sejenak untuk merenung, pemilik warung tersebut melanjutkan, “… mmm, menurut saya tulisan itu singkatan dari kata ‘Santo‘. “

(Willane Ackerman)

11 Komentar di “Menebus Maaf, Melupa Salah”

 

|
  1. Dian mengatakan:

    Makasih buat mas Joddie yang udah kasih kesempatan buat aku untuk ikutan posting di Blog ini..

    Salam dari sesama alumni KvB Institute Of Design & Technology – Sydney.. kapan reuni nih ? kok u bisa sampe Bali sih ?

  2. Elistadyon mengatakan:

    Pesan moral yang sangat bagus bung…Joddie.Bung ijin nge link blognya ya…

  3. handaru mengatakan:

    Mungkin judulnya akan lebih pas kalau diubah menjadi : “Menebus Maaf, Melupa Salah” :-)

  4. Dian mengatakan:

    Ok.. tak ganti deh.. makasih sarannya ya.. thank u.

  5. rahim mengatakan:

    thanks dah berkunjung mas joddie….

    cerita yang bagus…. menggambarkan 2 sisi manusia yang mau menebus kesalahan dan yang satu lagi malu akan kesalahan itu.

    kesalahan terjadi biar kita bisa memperbaikinya.

    semangat

  6. gozali mengatakan:

    sebuah tulisan, yg mengambarkan keteguhan berpendirian sangat inspiratif

  7. gozali mengatakan:

    izin tak link ya, makasih

  8. hana mengatakan:

    makasih ya ceritanya bagus.
    dulu waktu SD saya pernah juga membaca cerita yang mirib sekali dengan cerita ini, hanya saja tatonya MB, yang pada akhirnya karena kebaikannya MB berubah menjadi manusia baik.

  9. Joddie mengatakan:

    Ok.. kalau mau ada yang nge-link ke blog ini aku persilahkan dengan senang hati.. makasih responnya ya..

    btw, yang posting artikel ini adalah Dian, dia dulu temen kuliahku. Dian adalah salah satu ‘subscriber’ baru di blog ini.

    Aku emang lagi ngumpulin beberapa temen untuk ikutan posting di blog ini.. ada yg minat ikutan ? kirim email aja ke aku (cerita@gravis-design.com)

    thanks…

  10. fredy yansen mengatakan:

    cerita yang sunngguh meninspirasi aku..

    suatu perbuatan jahat memang susah tuk dihilangkan.. tapi jika bener2 punya tekad dan niat yang baik itu semua pelan pelan akan memudar di hati setiap orang yang pernah kita sakitin.

    aku ijin copy paste yah ceritanya

  11. GILANG mengatakan:

    ijin copas y bang…..

 

|

 

 

Tulis Komentar

Copyright © 2010 CeritaInspirasi.net. All rights reserved. Powered by Gravis Web Design