Canting
Canting adalah sebuah pena tembaga yang digunakan untuk menorehkan cairan lilin pada kain -saat batik dibuat. Setelah nyamplung terisi malam cair, canting ditiup dengan rasa oleh pemiliknya – lalu.. dengan berirama canting mulai membentuk pola-pola cantik di atas kain mori putih. Pola-pola yang nantinya membentuk sebuah daerah pada kain.. mana yang boleh berwarna dan mana yang tidak -disaat nanti kain mori itu dicelup dalam tinta.
Canting bukan sekedar pena untuk menulis – lebih dari itu, canting adalah alat pelukis. Sebuah alat untuk membuat kain polos menjadi berwarna – dengan berbagai karakter soga – yang kelak menjadi ciri dan kebanggaan pemakainya. Jalur-jalur lilin pada kain yang tergores oleh cucuknya menjadi sebuah tanda kepada tinta bahwa daerah itu dilarang untuk dirasuki warna..
Canting bukan sekedar pensil yang bisa dihapus bekasnya. Sekali tergores.. cairan lilin akan tetap pekat di kain. Seolah-olah mengajarkan pada pemakainya bahwa apapun yang telah ditorehkan manusia dalam lukisan bumi tidak pernah bisa tercabut kembali…
Canting bukan sekedar kuas yang berserabut. Canting hanya memiliki sebuah ujung tunggal – cucuk yang memang dipersiapkan untuk membuat garis tajam dalam satu kali goresan. Sebuah garis penanda antara gelap dan terang…
Filsuf singkat ini menginspirasi saya untuk membagi souvenir yang terbuat dari canting. Canting yang sudah dirakit ulang oleh putri-putri Solo, hingga membentuk kupu-kupu untuk hiasan kaca. Souvenir canting ini saya bagi kepada sahabat-sahabat penerima Cerita Inspirasi 1st Anniversary Award beberapa waktu lalu -tentunya bagi yang sudah memberi alamatnya pada saya, yaitu Ofan, Elpa, Elistadyon, Syafwan, Cucu Haris, MatahariTimoer, Buwel, nDop, Attayaya, PRofijo, mBak Fanny, Bang Dinoe, Kang Sugeng, Yolistiayu, dan Anazkia… Semoga sahabat bisa menjadi canting abadi bagi batik ibu pertiwi.. ^^

.
