Un avant-propos..

Sebuah lantunan cerita-cerita inspirasi, sekedar tulisan, mungkin juga coretan. Bukan untuk mengajari, menuntun, menggurui, bahkan mengubah.. hanya ingin menggoreskan warna, seperti merah bertemu jingga.. hanya ingin mengukir cermin, seperti cahaya bertemu prisma.. tentang sebuah ruang hati yang berbicara lewat sisi lain.. tentang perasaan, pemikiran, dan denyut bawah sadar..
Selamat datang di CeritaInspirasi.net ...

My Online Profile

 

Saat internet mampu menghilangkan jarak dan mendekatkan yang jauh.

 

FacebookPlurkTwitter

 
 
 
 

Dua Puluh Satu Mei

Diposting tanggal 21 Mei 2010, dalam kategori Others

Hari ini usiaku bertambah satu lagi.. Hmmm.. perjalanan yang belum terlalu jauh untuk seorang anak manusia. Melalui posting ini aku ingin mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Sang Penguasa Alam yang telah berkenan menciptakan dan mengijinkan aku untuk menghirup segarnya oksigen hingga hari ini.

Terima kasih juga saya ucapkan kepada para sahabat yang telah berkenan mengucapkan selamat dan berdoa untuk aku. Luar biasa.. kekuatan dan dukungan itulah yang sejujurnya dapat membuat aku tetap berdiri tegak dan melanjutkan langkah hingga hari ini..

Dan khusus untuk kamu yang selalu menemani malam-malamku, ah.. rasanya terima kasih saja masih belum cukup.  Seperti lembayung yang menjulur di antara kerawang anyaman ladang, hatiku tidak akan setegar ini jika kamu tidak memberinya penguatan.. thanks.. ^^

Cara Mendapatkan Pria Kaya

Diposting tanggal 17 Mei 2010, dalam kategori Life Tips

Seorang gadis mengirim surat ke sebuah majalah terkenal. Gadis tersebut sangat cantik dan sangat populer di lingkungan sekitarnya. Karena dianggap unik, majalah terkenal tersebut lalu memuat tulisan itu dengan judul “Apa yang harus saya lakukan untuk mendapatkan pria kaya?”. Demikian surat gadis cantik tersebut:

Maaf jika sedikit menyindir, tetapi saya hanya mencoba jujur dengan apa yang saya pikirkan selama ini. Saya berumur 25 tahun, sangat cantik, dan punya selera fashion yang sangat bagus. Saya ingin menikah dengan seorang pria yang berpenghasilan minimal 500 ribu dollar per tahun.

Anda mungkin berpikir saya matre, tetapi persyaratan yang saya ajukan tersebut sebenarnya sangat wajar. Tahukah Anda jika penghasilan 1 juta dollar per tahun hanya dianggap sebagai kelas menengah di New York? Saya hanya mengajukan syarat separuhnya sehingga saya kira cukup masuk akal.

Sepatu Raja

Diposting tanggal 13 Mei 2010, dalam kategori Inspired Story

Seorang raja berjalan kaki melihat-lihat keadaan ibu kota. Di jalan depan istana, kakinya terluka karena menginjak batu tajam. “Jalan di depan istana ini sangat buruk. Aku harus memperbaikinya,” begitu pikirnya. Maka, Sang Raja segera merumuskan proyek untuk memperbaiki jalan di depan istana itu. Ia ingin jalan itu dilapisi dengan kulit sapi terbaik, agar siapapun yang melewatinya tidak terluka. Persiapan mengumpulkan sapi-sapi di seluruh negeri dilakukan.

Di tengah kesibukan luar biasa itu, seorang pertapa menghadap raja dan berkata, “Wahai Paduka. Mengapa Paduka mengorbankan sekian banyak kulit sapi untuk melapisi jalan tersebut, padahal yang Paduka perlukan hanya dua potong kulit sapi untuk sepatu yang berfungsi melapisi telapak kaki Paduka?”

Kotak Sepatu

Diposting tanggal 2 April 2010, dalam kategori Inspired Story

Wool DollHenry dan Marta sudah menikah lebih dari 40 tahun. Tentu, sepasang manusia itu kini telah renta. Umur Henry 72 tahun dan umur Marta 68 tahun. Ketika hidup berumah tangga, keduanya tidak pernah menyimpan rahasia. Kecuali, sebuah kotak sepatu yang di simpan Marta di lemari pakaiannya. Marta  berpesan kepada suaminya untuk tidak sekali-kali membukanya atau bahkan menanyakan tentang barang itu kepadanya.

Suatu ketika, Marta sakit keras. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Henry dan anak-anak mereka untuk menyembuhkan Marta. Tetapi, tak satu pun yang berhasil. Dokter sudah angkat tangan dengan penyakit Marta. Mengingat tuanya usia Marta, tidak mungkin bagi dokter untuk melakukan tindakan-tindakan medis seperti yang biasa dilakukan pada penderita biasa.

 
 

Switch to our mobile site